Meski merasa terancam, Rian memilih untuk tidak membalas intimidasi tersebut karena ia ingin segera melanjutkan perjalanannya tanpa terlibat dalam keributan.
Baca Juga: Hati-Hati Warga Jambi yang Melakukan Pengalian di Sekitar Tiang Listrik, Disarankan Ada Tim dari PLN
Rian kemudian berjalan sedikit ke depan dan mengambil foto nomor SPBU sebagai dokumentasi. Namun, hal ini memicu reaksi keras dari pria tadi, yang kemudian bersama petugas SPBU dan satpam langsung mengejarnya.
Mereka mulai mengeroyok Rian, memiting lehernya, menarik bajunya, dan mencoba merebut handphone miliknya. Mereka juga mengeluarkan ancaman, mengatakan akan membanting handphone-nya dan bahkan memukulinya di tempat itu.
Dalam situasi genting tersebut, Rian tetap tenang dan menantang mereka untuk melaksanakan ancaman tersebut jika memang berani. Namun, karena mengingat keselamatan istrinya yang berada di dalam mobil dan terjepit di tengah antrean, Rian akhirnya memilih untuk mengalah.
Rian pun memenuhi permintaan mereka untuk menghapus foto yang telah diambil demi menjaga keselamatan istrinya.
Setelah insiden tersebut, Rian merasa sangat kecewa karena dari awal, petugas SPBU lebih membela pelangsir BBM daripada konsumen yang meminta bantuan dengan cara yang sopan.
“Satpam yang seharusnya melerai keributan malah ikut mengejar dan memaki saya, bahkan mengusir saya dari SPBU di depan istri. Saya merasa sangat dilecehkan dan direndahkan, dan saya sudah konfirmasi ke pihak manajemen SPBU dan memberikan waktu 2 x 24 Jam untuk menunjukkan itikad baik mereka untuk meminta maaf secara langsung kepada saya," tegas Rian, Rabu, 18 September 2024.
Baca Juga: BREAKING NEWS! Si Jago Merah Melahap 3 Rumah Warga Kutorejo, Tuban, 1 Unit Mobil Hangus
Ia juga menyayangkan sikap manajemen SPBU yang meminta maaf hanya melalui telepon seluler saja, yang menurut Rian permintaan maaf itu tidak cukup untuk menebus tindakan kekerasan dan penghinaan yang telah dilakukan kepada dirinya.
“Mereka bilang sudah menskor yang terlibat kejadian malam itu, terus mereka anggap persoalan selesai cukup sampai disitu, enak sekali, anak bersalah maka orang tua harus bertanggung jawab, logikanya sederhana si karyawan berani meladeni pemakaian barcode berulang kali oleh pelangsir itu tidak mungkin diketahui manajemen SPBU," singkatnya.
Rian juga menegaskan agar para pelaku, termasuk manajemen dan petugas SPBU beserta satpam, dan semua yang terlibat mengeroyoknya malam itu untuk datang meminta maaf secara langsung atas tindakan mereka yang dianggap telah melecehkan dan menghinanya.
"Setiap orang yang melakukan perbuatan-perbuatan melanggar hukum dengan rasa bangga menunjukkannya kepada orang lain seperti para pelangsir di SPBU itu, sudah dipastikan mereka merasa memiliki backing yang kuat sehingga bisa berbuat sesuka hatinya bahkan untuk mengintimidasi dan mencelakai orang lain diperbolehkan bagi mereka, maka saya mohon kepada Bapak Kapolda Sumbar untuk bisa menangkap para pelangsir tersebut beserta backingnya," lanjut Rian dengan Tegas lagi.