Berkat kolaborasi ini, produk "Batik Lapuanja" kini memiliki tujuh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk motif khas yang dirancang oleh warga binaan.
Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab Harga Sawit di Jambi Makin Meroket Tiap Minggunya
Selain membatik, Lapas juga mengembangkan Balai Latihan Kerja (BLK) dengan keterampilan lain, seperti konveksi, kerajinan produk turunan batik, pembuatan kue, dan salon kecantikan.
"Lapas kami juga menerima penghargaan dari Kementerian Hukum dan HAM pada April 2024 atas keberhasilan program ini," kata Ria.
Dorongan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Ruby Mulyawan memberikan masukan mengenai pemasaran produk batik sesuai momen perayaan nasional untuk meningkatkan daya tariknya.
Ia juga memotivasi warga binaan untuk memanfaatkan pelatihan sebagai bekal hidup setelah masa hukuman.
"Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya agar tidak kembali ke Lapas. Tetap semangat dan terus berkarya," pesannya.
General Manager PHR Zona 1, Hari Widodo, menambahkan bahwa keberhasilan program CSR juga didukung oleh sinergi dengan pemangku kepentingan.
"Setelah pemberdayaan di dalam, mari rencanakan program keberlanjutan bagi warga binaan yang telah bebas," ujarnya.
Kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Ruby menegaskan bahwa program "Srikandi Perubahan" menunjukkan komitmen PHR terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan. Program ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) dan poin ke-5 (kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan).
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, Pertamina terus berkontribusi dalam menciptakan perubahan positif bagi masyarakat dan mendukung ketahanan energi nasional.