Sabtu, 18 April 2026

PFI Jambi Tunjukkan Kearifan Lokal 4 Masyarakat Adat Melalui Pameran Foto

Photo Author
M Sobar Alfahri, Jambi Line
- Sabtu, 26 Agustus 2023 | 16:11 WIB

Pameran foto yang diadakan PFI Jambi. (Foto: Jambi Line)
Pameran foto yang diadakan PFI Jambi. (Foto: Jambi Line)

Jambi Line - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jambi menunjukkan kearifan lokal empat masyarakat adat di pedalaman Jambi melalui pameran foto jurnalistik. Pameran foto dengan tema "Masyarakat Adat di Tengah Perubahan Iklim" ini berlangsung di Taman Budaya Jambi, Telanaipura, Kota Jambi, pada Jumat (25/8) hingga Minggu (27/8).

Keempat komunitas masyarakat adat yang dimaksud, yaitu Orang Rimba, Talang Mamak, Batin Sembilan, dan Duano. Tampak kearifan mereka kala memanfaatkan dan mengelola sumber daya lingkungan. Di sisi lain, terdapat sejumlah foto menunjukkan bagaimana nasib masyarakat adat yang kehilangan hutan akibat deforestasi.

Baco Jugo: Walhi Jambi Sebut Monopoli Air Lahan Gambut Picu Karhutla

Pameran tersebut menjadi media penting untuk memahami peran masyarakat adat dalam mengatasi perubahan iklim, serta menghargai upaya mereka dalam merawat lingkungan. Dampak yang diharapkan, dapat membuahkan langkah-langkah konkret dan kolaboratif untuk memastikan bahwa kearifan lokal dan keanekaragaman budaya tetap menjadi aset berharga bagi masyarakat Jambi.

"Melalui pameran ini, kami mengajak semua pihak untuk bersatu mengatasi masalah perubahan iklim dan memelihara ekologi serta budaya masyarakat adat," kata Ketua PFI Jambi, Irma Tambunan.

Ia pun mengatakan pameran foto jurnalistik itu merupakan hadiah dalam perayaan hari masyarakat adat. Para jurnalis foto di Jambi telah memperhatikan situasi masyarakat adat di tengah perubahan iklim yang semakin meruncing.

"Kepedulian ini tercermin dalam karya-karya foto yang kami tampilkan, menggambarkan kehidupan masyarakat adat di Jambi," katanya.

Baco Jugo: Menteri ATR/BPN Ingatkan Jambi Berada di Posisi 3 Konflik Agraria Terbanyak

Yunani, seorang tokoh masyarakat adat Batin Sembilan yang turut hadir dalam pembukaan pameran, mengungkapkan perasaan terharunya. Ia bahagia dapat berbagai nasib dan kearifan lokal masyarakat adat kepada orang-orang di kota.

"Saya sangat bahagia bahwa kehidupan dan kondisi kami, masyarakat adat, bisa dilihat oleh banyak orang di kota melalui pameran ini. Hutan adalah sumber kehidupan kami, meskipun kondisi saat ini tidak memungkinkan kami untuk tetap berada di dalamnya. Kami terpaksa harus mulai beradaptasi dengan situasi baru," ungkapnya.

Selain mengadakan pameran foto, PFI Jambi turut mengadakan seminar, dua mini workshop, serta klinik fotografi untuk masyarakat di Taman Budaya Jambi. Mak Nur, Induk Orang Rimba dari Desa Dwi Karya Bakti, Pelepat, berkesempatan menampilkan tarian Bedeti yang merupakan doa dan prosesi turun mandi bagi bayi.

Dengan melibatkan berbagai aspek, serangkaian kegiatan yang diadakan PFI Jambi ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan dukungan nyata bagi masyarakat adat dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan ekologi dan budaya mereka.

Kapolda Jambi Sampaikan Pentingnya Peduli pada Masyarakat Adat

Kapolda Jambi Irjen Rusdi Hartono dan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Jambi Imron Rosyadi sempat menghadiri pembukaan pameran tersebut. Rusdi bahkan membuka kegiatan ini secara resmi.

Kapolda itu menunjukkan rasa pedulinya terhadap masyarakat adat di Jambi. Menurutnya, pengakuan terhadap suku Anak Dalam serta masyarakat adat lainnya di Jambi, sangat penting.

Kepedulian terhadap masyarakat adat, bagi Rusdi, adalah wujud konkret dari komitmen kepolisian terhadap keragaman budaya dan peninggalan bersejarah.

"Dalam berbagai aspek kehidupan, kita harus mendukung mereka sepenuhnya. Beberapa anggota masyarakat adat bahkan telah menjadi anggota polisi, seperti Bripda Seri Santoso dan Bripda Perbal Jeni Andi. Mereka memiliki potensi dan kemampuan yang setara dengan rekan-rekan mereka dalam segala hal, baik fisik maupun intelektual," ungkapnya.

Baca Jugo: 229 Hektar Karhutla di Jambi, Satgas Sebut Masyarakat Jadi Penyebab Utama

Ia pun menekankan bahwa penting untuk tidak hanya memahami hukum positif, tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat adat.

"Kami menerima laporan mengenai perselisihan di masyarakat adat di Bungo. Mereka memiliki mekanisme internal yang harus dihormati, termasuk dalam memberlakukan sanksi seperti denda kain tradisional. Hal ini mencerminkan kearifan lokal yang perlu kita hargai," tuturnya.

Kapolda Jambi dalam kesempatan ini mengajak semua pihak untuk terus mendukung masyarakat adat dalam mempertahankan kearifan lokal mereka dan menjaga lingkungan. Dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya masyarakat adat, kita juga dapat mengambil langkah-langkah lebih kuat dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Sobar Alfahri

Tags

Terkini

X