Oleh : Maskun Sopwan
Jambiline.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada pada tahun 2024 akan diikuti Sebanyak 37 provinsi dan 508 kabupaten/kota.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) sendiri telah menetapkan, bahwa pelaksanaan Pilkada akan digelar pada tanggal 27 November 2024
Khusus di Provinsi Jambi, Pilkada akan diikuti oleh 11 kabuapten/kota. Berbagai kandidat telah muncul mendeklarasikan diri untuk maju pada Pilkada 2024.
Jelang pelaksanaan Pilkada, suhu politik kini kian meningkat, berbagai isu mulai dimainkan. Paling santer terdengar saat ini adalah isi tas dan keturunan atau politik dinastilah yang bisa mendominasi.
Baca Juga: Menakar Paslon di Pilwako Jambi, dari 4 Hingga Kemungkinan jadi Dua Pasang
Agaknya paradigma seperti sedikit mengusik pikiran penulis, di mana masyarakat kita mulai dicekoki dengan nyanyian politik uang dan keturunan bangsawan.
Memang dalam dunia politik, perebutan kekuasaan sering kali diasosiasikan dengan kekuatan uang dan politik dinasti.
Banyak yang beranggapan bahwa tanpa dukungan finansial yang besar atau koneksi keluarga yang kuat, seseorang sulit untuk menembus batasan-batasan struktural dan menjadi pemimpin.
Namun, sejarah dan beberapa contoh nyata menunjukkan bahwa tekad kuat dan ketulusan hati juga bisa menjadi jalan untuk meraih kepemimpinan.
Baca Juga: Pemimpin dari Kalangan Pengusaha : Bisakah Mereka Lebih Memahami Masalah Rakyat?
Salah satu contoh inspiratif adalah Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief, dan Wakil Bupatinya, Bakhtiar. Keduanya adalah bukti hidup bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu diukur dari kekayaan atau garis keturunan, tetapi lahir dari visi yang jelas dan dedikasi yang tulus untuk melayani masyarakat.
Pada Pilkada serentak 9 Desember 2020 lalu, Pasangan Muhammad Fadhil Arief dan Bakhtiar sukses membantai politik dinasti di Kabupaten Batanghari.
Fadhil-Bakhtiar waktu itu diusung tiga partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai NasDem.