Jika memang ada keinginan tulus untuk berkontribusi dalam dunia akademik, mengapa tidak fokus pada penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan terlebih dahulu, baru kemudian gelar akan mengikuti sebagai konsekuensi alami dari dedikasi tersebut?
Kita perlu mengembalikan makna sejati dari gelar profesor. Ia bukan sekadar simbol status atau alat untuk meningkatkan elektabilitas politik. Profesor adalah mereka yang dedikasi hidupnya tercurah untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pencerahan masyarakat. Mereka adalah sosok yang tidak hanya brilian dalam teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan keilmuannya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di masyarakat.
Akhirnya, mohon dicatat, sudah saatnya kita lebih menghargai kontribusi nyata daripada sekadar gelar. Mari kita dorong para tokoh publik, termasuk politisi, untuk berkontribusi dalam bidang keahlian mereka tanpa harus terobsesi dengan gelar akademis tertinggi (walaupun tidak ada salahnya).
Yakinlah, pada akhirnya yang akan dikenang oleh sejarah bukanlah gelar yang disandang, melainkan jejak nyata yang ditinggalkan untuk kemajuan bangsa dan peradaban. Semoga.
Baca Juga: Pimpinan Pusat Tuntut Pemangku Kepentingan Tak Layani Pihak yang Mengaku Sebagai IWO
Oleh : Bahren Nurdin (Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik – Tinggal di Australia)
Artikel Terkait
2 Politisi Golkar Budi Setiawan dan Ivan Wirata Temui Aktivis Senior As'ad Isma
Politisi Senior Usman Ermulan Sebut Budi Setiawan Punya Peluang Besar di Pilwako Jambi 2024
Pengamat Sebut Duet Budi-Roro di Pilwako Jambi 2024 Cukup Kuat, Ini Alasannya
Pilwako Jambi 2024, Pengamat Sebut Hanya Dua Calon yang Paling Serius dan Realistis : Warga Kota Jambi Sudah Lebih Cerdas dalam Memilih Pemimpin
Pasca Mahasiswi Bunuh Diri di Bank Jambi, Pengamat : Perlu Penguatan Sosial dan Mental
Kasus Mahasiswa Bunuh Diri: Tekanan Akademik yang Mencekik?, Berikut 5 Solusi yang Ditawarkan Pengamat, Bahren Nurdin