Salah satu program yang disorot dunia adalah Festival Tumpah Ruah, sebuah kegiatan lima hari yang menggabungkan edukasi, promosi budaya, dan penyuluhan informasi publik.
Festival ini tidak hanya memperkenalkan budaya lokal dan kawasan kota tua, tetapi juga mengedukasi warga tentang teknologi, transportasi umum, ekonomi digital, dan lingkungan secara interaktif.
“Festival ini menjadi wahana komunikasi publik yang efektif, inklusif, dan menyenangkan bagi masyarakat,” jelas Maulana. “Partisipasi warga yang tinggi menunjukkan bahwa literasi informasi dapat dibangun dengan pendekatan yang kolaboratif dan kreatif.”
Wali Kota Maulana juga menyatakan dukungan penuhnya terhadap program MIL UNESCO dan menyampaikan keinginan Kota Jambi untuk menjadi kota percontohan dalam inisiatif ini.
Selain Maulana, forum internasional tersebut juga menghadirkan Wali Kota Johannesburg (Afrika Selatan) Dada Morero, Wali Kota Dubrovnik (Kroasia) Mato Franković, dan Wali Kota Athena (Yunani) Haris Doukas.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi, Mariani Yanti, SP, MDM, Ph.D, menyebutkan bahwa pertemuan terbagi dalam dua sesi: sesi kebijakan kota dan sesi teknis program.
Sebagai tindak lanjut, akan dibentuk tim kerja (task force), disusun rencana aksi, dan diluncurkan MIL Action Plan di kota-kota peserta program.
Partisipasi Kota Jambi di forum ini menegaskan komitmennya sebagai kota yang adaptif, terbuka terhadap inovasi global, dan berorientasi pada penguatan kapasitas masyarakat di era informasi.
Artikel Terkait
Kendalikan Pencemaran Sungai, Pemprov Jambi Siapkan Bank Sampah di 11 Desa
Polemik Sampah di Muaro Jambi, Komisi III DPRD Muaro Jambi Panggil DLH dan PUPR
Semangat Ramadhan, Personil Ditpolairud Polda Jambi Bersih-bersih Sampah di Sungai Batanghari
Kementerian Perdagangan Saudi Gagalkan Penjualan Kasur Ilegal di Makkah, Diduga Barang Terbuat dari Limbah Sampah
9 Desa di Kecamatan Kumun Debai Gelar Study Tiru ke Bank Sampah Sihkumbang Eka Jaya Jambi