Jambiline.com - Polisi mengungkapkan Dwi Fatimahyen (29), dokter di Jambi yang dibunuh setelah dikejar, bukanlah pelaku pencurian seperti yang diceritakan warga. Dokter itu ketakutan dikejar warga dan polisi hingga merenggang nyawa.
Namun, Dwi memang sempat mengelilingi kawasan Pondok Cipta, Mestong, Muaro Jambi, dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi. Hal ini memperburuknya warga.
Yang dimaksud bukan pelaku pencurian, kata Kapolres Mauro Jambi AKBP Wahyu Bram.
Baca Juga: Dokter Jambi yang Tewas Kecelakaan Usai Dituduh Maling Ngebut Kayak 'Kilat'
Bram menyampaikan Dwi mengelilingi kompleks perumahan selama empat menit dengan kecepatan tinggi. Warga kemudian mengabarkan melalui grup WA.
Dwi tidak menghentikan laju mobilnya saat diadang warga, tetapi terus menancapkan gas hingga warga mengejar.
“Warga tidak tahu bahwa di dalam mobil adalah perempuan,” ujarnya.
Ketika sampai di jalan raya, kejar-kejaran ini kemudian disusul polisi lengkap dengan sirine, toa hingga tembakan peringatan. Kejar-kejaran ini berlangsung selama berkisar satu jam lebih.
Anggota kami sudah menggunakan toa dan meminta berhenti. Kalau warga yang ngejar dan ditakuti begal, itu masih wajar, kata Bram.
Baca Juga: Kasus Tewasnya Dokter di Jambi Imbas Dituduh Maling: 5 Warga yang Mengejar Tak Bisa Dipidana
Kejar-kejaran berakhir usai banting setir ke kanan
Ketika sampai di daerah Sekernan, meski menghadapi kondisi lalu lintas yang padat, Dwi tetap melajukan mobilnya demi menghindari polisi.
Sialnya, Dwi berpapasan dengan truk hingga banting setir ke kanan. Dwi yang kehilangan kendali, menabrak tiang listrik dan rumah warga. Ia tewas seketika.
"Dari jalan yang berlawanan ada truk. Akhirnya banting setir ke kanan. Terjadilah kecelakaan tabrakan rumah warga," kata Bram.
Menurut sepupunya, Dwi adalah orang yang mudah panik. Oleh karena itu, ia tidak bisa mengendalikan diri saat dikejar beberapa orang.