Faktor ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Biaya pendidikan yang terus melonjak menjadi beban tersendiri.
Tidak sedikit pula mahasiswa yang terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu demi membantu orang tua atau untuk bertahan hidup. Hal ini semakin menambah tekanan pada persoalan akademik yang mereka hadapi.
Lebih memprihatinkan, banyak institusi pendidikan tinggi belum memiliki sistem dukungan yang memadai. Layanan konseling sering kali terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali. Program kesehatan mental masih dianggap sebagai 'kemewahan' daripada kebutuhan mendasar.
Baca Juga: Sinopsis Serial Anime Rick and Morty, akan Rilis Agustus 2024 dengan Dua Versi
Lantas, apa yang mungkin dapat dilakukan?
1. Reformasi Kurikulum:
Perlu ada reformasi kurikulum yang menekankan keseimbangan antara pencapaian akademik dan kesejahteraan mental. Institusi pendidikan harus mempertimbangkan beban akademik yang lebih manusiawi.
2. Peningkatan Layanan Dukungan Mental:
Konseling harus tersedia dan mudah diakses. Stigma seputar kesehatan mental harus dihapuskan melalui edukasi yang berkelanjutan. Bimbingan spiritual dan penguatan keimanan wajib dilakukan tiada henti.
3. Pelatihan Keterampilan Hidup (Soft-skill):
Mahasiswa perlu dilatih dalam keterampilan hidup, termasuk manajemen stres, pengelolaan waktu, dan resiliensi emosional. Ini akan membantu mereka menghadapi tekanan dengan lebih baik.
4. Membangun Komunitas yang Suportif:
Institusi pendidikan harus aktif membangun komunitas yang suportif. Program mentoring, kelompok dukungan sebaya, dan kegiatan sosial yang bermakna dapat membantu mengurangi isolasi.
5. Meninjau Ulang Definisi Kesuksesan: