"Kami JNE Tuban dengan JNE pusat kan hanya mitra, bukan cabang atau tangan kanannya. Kami hanya mitra, sehingga sistem pengelolaan ekspedisi diserahkan menurut mitra masing-masing. Jadi saya hanya mengelola pengiriman yang ada di sini. Dari sewa sampai karyawan, kita sendiri yang mengatur," tuturnya.
Dia juga menunjukkan ada kualitas sistem pengiriman barang yang harus diperhatikan bagi kurir agar tidak mengecewakan pihak penerima.
"Yang paling dibutuhkan customer adalah kecepatan dan ketepatan, jadi jika ada penawaran cashback atau diskon, mereka kurang tertarik karena biasanya pengirimannya lambat. Itu kan juga bermasalah," ucapnya.
Menariknya, persaingan ekspedisi yang ketat di luar sana justru tidak membuat Rofiq khawatir akan kehilangan jumlah customer.
"Semakin ke sini, sekarang bisa dilihat barang pengiriman di ruang bawah. Dulu yang ikut kompetitor sekarang berubah dan banyak yang kembali lagi ke JNE, karena kita selalu mengutamakan cepat dan tepat waktu," katanya.
Di samping itu, ada sanksi keras bagi karyawan atau kurir yang mengalami penurunan kualitas kerja di JNE.
"Untuk kurir yang diduga melakukan keterlambatan pengiriman, akan ada sanksi. Sekarang sudah ditentukan oleh pusat ada asesmennya untuk 6 bulan sekali. Jadi pusat juga ikut menilai kinerja kurir, apakah pantas diperpanjang atau tidak," tuturnya.
Adapun, hukuman lain yang berlaku bagi mereka setelah hasil evaluasinya sangat parah.
Meski ada beberapa dari mereka yang tidak disiplin, tetap ada yang membanggakan hingga bertahan lama sampai saat ini.
"Di sini berlaku sistem skorsing, itu juga 6 bulan sekali. Tapi ada yang kinerjanya bagus, bahkan sampai 14 tahun ikut saya kerja dari saya masih di bawah," terangnya.
4. Program sosial JNE Tuban dengan anak yatim.
Menurut Rofiq, menjadi bagian dari JNE Indonesia adalah suatu kebanggaan, di mana dia bisa memiliki ladang berbagi dengan sesama.
"Saya bangga di JNE, karena ekspedisi satu-satunya punya motivasi memberi dan menyantuni. JNE didirikan oleh Suparno Soeprapto, tapi sudah meninggal. Sekarang presidennya digantikan oleh putranya, Feriadi, dan temannya, Yohari Zein. Jika ada yang mau membuka kantor cabang, pasti dilihat ada atau tidaknya anak yatim atau piatu. Jika tidak ada, tidak diizinkan. Jadi saya bangga karena saya berada di jalur yang benar, bukan hanya untuk dunia, tapi untuk akhirat juga," ungkapnya.
Dia tetap menjalankan program tahunan yang menjadi agenda perusahaan yang telah ditetapkan oleh pusat.
"Kami menyantuni anak yatim, biasanya ada agenda berbuka bersama setiap tahun. Bahkan kita kumpulkan omset keuntungan perbulan, nanti 2,5 persennya untuk anak yatim. Itu memang agenda dari pusat," ucapnya.
5. Harapan JNE Tuban.
Sementara itu, tindakan pemerintah dalam perekonomian dirasa perlu dievaluasi, terutama dalam hal ekspedisi yang merusak pasar jasa.
Artikel Terkait
Industri Hulu Migas Butuh Suntikan Dana US$20 Miliar per Tahun untuk Kejar 1 Juta Barel
Harga Sawit di Jambi Pekan Ini Terjadi Penurunan, Berikut Rinciannya
Memiliki Kinerja baik, 7 KKKS Raih Penghargaan Subroto 2023
Mubadala Energy Berhasil Temukan Potensi Gas Besar di South Andaman Wilayah Laut Dalam