ekonomi

Menakar Sejarah Berdirinya JNE Tuban, Langkah Perantauan yang Penuh Tantangan Menuju Indonesia Sejahtera

Rabu, 31 Juli 2024 | 18:29 WIB
Rofiq Yulistiono, owner JNE Tuban yang sudah merintis sejak tahun 2002. Kariernya dibidang ekspedisi pengiriman barang telah digeluti sejak lebih dari 22 tahun yang lalu. (Foto: Afika)

Jambiline.com - Perusahaan ekspedisi Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE Tuban telah berkiprah di Kabupaten Tuban, Jawa Timur sejak tahun 2002.

Perlu diketahui, di balik logo JNE yang berupa tulisan biru bercoret merah yang ikonik itu, tersembunyi kisah-kisah penuh pelajaran tentang ketepatan waktu, tanggung jawab, dan ketekunan, seperti yang dialami oleh pendiri JNE Tuban, Rofiq Yulistiono.

Sampai saat ini, Rofiq masih terus memimpin kantor JNE Tuban  sebagai owner, sejak JNE masih belum dikenal seperti sekarang.

"Saya sebagai owner, kalau kepala Bu Lolita. Saya dulu mulai tahun 2002, itu JNE belum dikenal di seluruh Indonesia. Saya dapat informasi dari teman kerja," kata Rofiq kepada Jambiline.com, pada Rabu, 31 Juli 2024.

JNE Tuban memiliki sejarah yang sangat berliku-liku dalam pendiriannya, bahkan mereka terus menghadapi persaingan dari ekspedisi kompetitor lain yang terus memberikan penawaran-penawaran menarik di era saat ini.

1. Sejarah JNE Tuban.
Rofiq adalah seorang perantau yang pernah hidup di Pulau Bali, dan sudah bekerja sebagai kurir ekspedisi.

Dia mengenal JNE dari rekan kerjanya, dan akhirnya bertekad untuk bergabung di JNE melalui rekannya.

"Dulu saya kerja di ekspedisi di Bali, dan salah satu teman kerja ada yang keluar dan bergabung dengan JNE Jember. Waktu itu, teman saya mengajak temannya yang lain, akhirnya lama-lama buka di Probolinggo. Setelah itu, dia mengajak saya ditahun 2002," tuturnya.

Dia juga menghadapi konflik yang sulit pada masa itu, namun tetap berani menghadapi segala masalah hingga akhirnya mantap mendirikan JNE di Tuban.

"Waktu itu viral peristiwa bom Bali, dan kondisinya sangat rawan. Kebetulan istri saya meminta pulang kampung ke Tuban karena kondisi sedang melahirkan anak ketiga. Tepat waktu sehari setelah melahirkan, malamnya terjadi bom Bali. 3 bulan kemudian saya mendirikan JNE Tuban," ungkapnya.

Kesederhanaan tempat kerja, tak membuatnya putus asa dan patah semangat, apalagi dia berani membuka kantor yang sangat kecil.

"Dulu kantor saya kecil sekali, masih dibantu dengan istri saya saja. Jadi tahun 2002 itu JNE masih belum dikenal di Tuban. Anggaplah istri saya yang menjaga di kantor, padahal tempat itu bekas warung. Lokasinya di Jl. Patimura Desa Baturetno, itu kecil sekali dulu, tepat pas di tikungannya copeng," ujarnya.

Untungnya, kerja keras Rofiq membuahkan hasil hingga akhirnya dia mampu mendapatkan legalitas ekspedisi yang diakui oleh JNE pusat dan melakukan pengiriman besar-besaran.

"Kemudian, saya di acc secara legal pada tahun 2004. Jadi sebelumnya saya sudah bergabung di JNE, tapi belum di acc untuk nama JNE nya. Di sisi lain, saya tetap delivery, mengirim barang, walaupun dalam satu bulan hanya mengirim 1 atau 2 kali. Itupun juga berupa surat, masih sedikit sekali. Akhirnya berkembang ditahun 2004, dan itu saya mulai di acc secara resmi jadi legal dan saya mulai menerima kiriman, lalu mengirim di seluruh Indonesia," terangnya.

Halaman:

Tags

Terkini