ekonomi

Menakar Sejarah Berdirinya JNE Tuban, Langkah Perantauan yang Penuh Tantangan Menuju Indonesia Sejahtera

Rabu, 31 Juli 2024 | 18:29 WIB
Rofiq Yulistiono, owner JNE Tuban yang sudah merintis sejak tahun 2002. Kariernya dibidang ekspedisi pengiriman barang telah digeluti sejak lebih dari 22 tahun yang lalu. (Foto: Afika)

2. Persaingan JNE Tuban dengan Kompetitor.
Lanjut Rofiq, ternyata mengembangkan usaha jasa tidak semudah yang dibayangkan.

Dia harus menghadapi persaingan jasa pengiriman seiring berjalannya waktu.

"Persaingan ekspedisi semakin tumbuh, karena zaman marketplace semakin berkembang. Itu saya rasakan ditahun 2019-2020," ucapnya.

Seperti halnya Kantor Pos, dia juga memberlakukan pelayanan yang maksimal kepada customer.

"Sebelumnya karena belum muncul kompetitor, saya dan Kantor Pos itu bersaing. Itu betul-betul kita rasakan bersaing secara sehat. Kantor Pos membuka layanan pengiriman dengan diskon tersendiri, kita pun juga begitu. Terutama saat pandemi Covid-19 banyak orang-orang menggunakan ekspedisi kurir," jelasnya.

Dia juga menjelaskan, tumbuhnya ekspedisi lain, justru bukan bersaing, malah merusak pelayanan yang ada di JNE Tuban.

"Sementara, para kompetitor yang baru tumbuh ini saya rasa kurang sehat. Mereka bersaing secara tidak sportif, terutama ekspedisi dari luar. Mereka menjalankan politik sendiri seperti bebas ongkir, terus terang kalau saya ya tidak mampu di situ. Bahkan diskon berapa persen yang nilainya besar, kita tidak mampu," tegasnya.

Di sisi lain, ada celah yang akhirnya bisa ditemukan setelah kecurangan dari ekspedisi lain berjalan beberapa tahun.

"Ada aturan-aturan dari pusat yang harus kita laksanakan. Namun, sistem free ongkir sampai satu bulan, kita tidak bisa. Makanya saya sangat terpukul dengan ekspedisi yang bersaingnya kurang sehat. Dia mampu memberlakukan sistem itu, karena dia punya saham orang terkaya di sini. Untungnya, berjalan 2 tahun, akhirnya mereka tidak mampu menguasai," katanya.

Apalagi, banyak isu yang terjadi ketika ekspedisi memberlakukan sistem pembayaran Cash On Delivery atau COD, yang juga menjadi pesaing yang merusak bagi JNE.

"Yang sering terjadi di berita-berita, kebanyakan kurir melawan pihak penerima. Sering ditemukan juga terjadi cekcok dengan customer. Penerima COD sering mengira bahwa kurir yang menjual barang, padahal mereka hanya mengirim. Itu juga menjadi salah satu terhambatnya layanan ekspedisi," tegasnya.

Di sisi lain, kesulitan dalam sistem COD seringkali diabaikan karena kurir harus menerima uang pengiriman setelah barang sampai di penerima.

"Dengan COD kan kita harus memastikan bahwa penerimanya sudah punya uang untuk membayar, atau nanti kita akan menunggu dia dulu uangnya," ungkapnya.

3. Kinerja JNE Tuban.

Suasana lobi depan, kantor JNE Tuban (Foto: Afika)

Rofiq telah memberlakukan aturan tersendiri bagi para karyawan dan kurir yang ada di kantornya.

Halaman:

Tags

Terkini