Sabtu, 18 April 2026

4 Desa Penjaga Candi Muara Jambi Meriahkan Kenduri Swarnabhumi

Photo Author
M Sobar Alfahri, Jambi Line
- Minggu, 6 Agustus 2023 | 23:46 WIB

Para nyai dari Desa Muara Jambi sedang menyiapkan makanan dalam Kenduri Swarnabhumi. (Foto: Jambi Line)
Para nyai dari Desa Muara Jambi sedang menyiapkan makanan dalam Kenduri Swarnabhumi. (Foto: Jambi Line)

Jambi Line - Masyarakat desa penjaga Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi (KCBN) Muara Jambi turut berpartisipasi dalam Festival Ekspedisi Batanghari, Kenduri Swarnabhumi di KCBN Muara Jambi, Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro, Jambi, Minggu (6/8). Mereka berbagi hasil alam, memasak, menggelar tarian tradisional, hingga melakukan arak-arakan untuk memeriahkan festival itu.

Empat desa yang dimaksud, yakni Desa Danau Lamo, Desa Baru, Desa Kemingking Luar, dan Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo.

Desa Baru memberikan seserahan secara simbolis yang dilengkapi dengan hiasan miniatur berupa rumah panggung dan perahu. Terlihat sejumlah buah kelapa, minyak goreng, dan beras yang diberikan perwakilan desa ini.

Sedangkan warga Desa Danau Lamo, yang sebagian besar mengenakan pakaian teluk belango, telah menyerahkan bumbu, rempah, sayuran, dan kayu medang yang digantung di bambu. Diketahui, sebagian bumbu yang diserahkan oleh mereka ialah hasil budi daya di Desa Danau Lamo.

Setelah dua desa tadi, datanglah desa berikutnya, yakni Desa Kimingking Luar. Masing-masing perwakilan desa ini mendatangi lokasi Kenduri Swarnabhumi diiringi arak-arakan hingga 'mengumandangkan' tradisi seloko.

Mereka disambut Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbud Ristek Restu Gunawan, Pj Bupati Muaro Jambi Bachyuni, dan pejabat lainnya.

Sedangkan Desa Muara Jambi dalam festival ini berperan sebagai tuan rumah. Hasil alam dan bahan makanan yang diserahkan tiga desa tadi, langsung diolah oleh 32 orang tuan rumah.

"Desa Muara Jambi sebagai tuan rumah. Kami bekerja sama. Kami membuat rendang, pindang ikan toman yang khas di sini, acar, dan sebagainya. Ikan yang dimasak berasal dari Danau Lamo," kata Jamila, warga Desa Muara Jambi, sembari menyiapkan makanan.

Menariknya, di antara masakan yang disiapkan Desa Muara Jambi, terdapat oalah ikan mengandung tanaman buah kepayang, yakni kluwek.

"Jadi macam rendang. Tanaman kepayang memang ada di sini," kata Nuraini.

Semua masakan ini dihidangkan dengan wadah berupa daun pisang dan piring terbuat dari pelepah pinang. Warga sekitar dan pengunjung menikmatinya di pondok beratapkan daun kelapa dan bertiang bambu.

Kapala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V, Agus Widiyatmoko mengatakan empat desa itu perlu dilibatkan karena kelestarian KCBN Muara Jambi bergantung pada mereka. Tidak hanya dalam festival, tetapi turut dilibatkan dalam pengelolaan KCBN Muara Jambi.

"Empat desa inilah yang menjadi ujung tombak. Yang menjaga dan mengelola sampai urusan pelindungan dan pemanfaatan," katanya.

Ia pun mengatakan keempat desa sepakat untuk menjaga lingkungan dan kelestarian kawasan Cagar budaya itu.

"Empat pintu ini sepakat, seiya, sekata. Kami sendiri berperan sebagai penyambung kato," ujarnya.

KCBN Muara Jambi sendiri memiliki luas berkisar 3.981 hektare. Sebagian lahan itu masih masih dimiliki masyarakat, dan ada yang dimanfaatkan oleh perusahaan batu bara untuk stockpile.

Di dalamnya terdapat belasan situs candi. Kawasan percandian yang diperkirakan eksis pada abad 7-12 Masehi ini, merupakan universitas filsafat dan agama Buddha terluas di Asia Tenggara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Sobar Alfahri

Tags

Terkini

X