Sabtu, 18 April 2026

Calon Kepala Daerah Main Jegal Lawan Jelang Pilkada, Tanda Ketakutan Bertarung Fair di Atas Panggung

Photo Author
Maskun Sopwan, Jambi Line
- Selasa, 27 Agustus 2024 | 17:30 WIB

Ilustrasi Calon Kepala Daerah (CN)
Ilustrasi Calon Kepala Daerah (CN)

Oleh : Maskun Sopwan

Dalam politik, khususnya di tingkat daerah, persaingan antar calon sering kali berlangsung ketat dan penuh dinamika. Namun, ada satu fenomena yang makin sering terjadi dan perlu mendapat perhatian serius: praktik menjegal lawan politik sebelum kompetisi dimulai.

Alih-alih mengandalkan visi, program, dan kemampuan memimpin, sebagian calon kepala daerah justru memilih jalan pintas dengan menjegal lawan mereka melalui berbagai cara yang tidak etis. Apakah ini mencerminkan ketakutan untuk bertarung secara fair di atas pentas demokrasi?

Taktik menjegal lawan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari upaya menggugurkan pencalonan rival dengan memanfaatkan celah hukum, hingga kampanye hitam yang bertujuan merusak citra dan reputasi lawan.

Baca Juga: Simpatisan dan Kader Golkar Kota Jambi Unjuk Rasa, Tolak Rekomendasi DPP untuk Pilwako Jambi 2024

Selain itu, upaya lain yang juga kerab dilakukan yakni manipulasi informasi, penyebaran hoaks, menguasai dukungan partai secara masif, atau bahkan memberi tekanan terhadap penyelenggara pemilu untuk menguntungkan satu pihak tertentu.

Hal ini sangat disayangkan, terutama dalam konteks demokrasi yang sehat. Seharusnya, pemilihan kepala daerah menjadi ajang untuk menampilkan ide-ide brilian dan kebijakan yang inovatif.

Namun, ketika sebagian calon lebih memilih untuk merusak lawan daripada bersaing secara sehat, yang terjadi adalah degradasi kualitas demokrasi itu sendiri.

Baca Juga: High Level Meeting Konreg PDRB-ISE 2024 Bahas Evaluasi dan Tindak Lanjut Pelaksanaan Kesepakatan Konreg

Takut Bertarung di Medan yang Adil

Mengapa ada calon yang merasa perlu menjegal lawan? Salah satu alasannya mungkin ketakutan untuk menghadapi persaingan yang sesungguhnya.

Mereka menyadari bahwa di medan yang setara, mereka mungkin tidak memiliki keunggulan yang cukup untuk memenangkan hati pemilih. Daripada memperbaiki diri dan menawarkan solusi yang lebih baik bagi masyarakat, mereka memilih untuk mengeliminasi kompetitor sebelum pertempuran dimulai.

Tindakan ini tidak hanya menunjukkan kelemahan karakter calon tersebut, tetapi juga memberikan sinyal negatif kepada masyarakat tentang kualitas kepemimpinan yang mereka tawarkan.

Baca Juga: Soroti Soal Karhutla di Jambi, Anggota DPRD Ini Minta Pemerintah Tegas Proses Perusahaan Bukan Masyarakat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Maskun Sopwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bawaslu Provinsi Jambi Tanam Pohon ‘Integritas’

Jumat, 27 Desember 2024 | 05:24 WIB
X