Jambiline.com - Heboh kasus pembunuhan driver Maxim di Jambi bernama Rusdianto di perbatasan Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi baru-baru ini, yang diduga salah satu pelakunya adalah mahasiswa menuai berbagai tanggapan. Salah satunya Bahren Nurdin, selaku Pengamat Sosial Jambi.
Bahren menyebutkan, peristiwa ini adalah peringatan bagi seluruh masyarakat di Jambi khususnya, bahwa kejahatan itu dapat dilakukan oleh siapapun termasuk kaum intelektual dan mahasiswa.
Sebelumnya, dua pembunuh sopir taksi Maxim di Jambi, bernama Rusdianto (47) itu, kini telah diringkus polisi. Mereka diduga adalah seorang mahasiswa di salah satu Kampus di Jambi.
Baca Juga: Cukup Bayar Rp10 Ribu, Wisata Air Terjun Serintik Hujan Paneh di Merangin Siap Hipnotis Pengunjung
Keduanya pun juga diketahui adalah pemuda yang tinggal di Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Kedua pria itu ialah Agam Santoso (19), dan Afif Tramubia (22).
Dari informasi yang diperoleh, salah satu pelaku diduga merupakan mahasiswa UIN STS Jambi.
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Sosial Jambi, Bahren Nurdin sangat mendukung kerja dari aparat kepolisian yang telah menangkap para pelaku dengan cepat.
Baca Juga: 2 Mahasiswa Pembunuh Sopir Maxim di Jambi Sempat Gadaikan Mobil Curian
"Sebagai negara hukum, siapa pun yang melanggar hukum harus dihukum sesuai hukum yang berlaku. Saya juga sangat mensupport kerja kawan-kawan dari kepolisian untuk mengusut tuntas sampai nanti mengadili perkara Kriminalitas yang dilakukan ini," katanya pada Jambiline.com, Sabtu (20/04/2024).
Selanjutnya, menurutnya kriminalitas yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut terjadi bukan oleh satu faktor. Akan tetapi banyak faktor lain yang akhirnya membuat pelaku melakukan kejahatan tersebut.
Bilangnya, meskipun pelaku tersebut adalah seorang mahasiswa, akan tetapi bagaimana latarbelakang nya tidak ada yang tahu.
Baca Juga: Kronologi Pembunuhan Driver Maxim di Jambi Terkuak: Korban Dijerat Hingga Dibuang
"Kita meyakini bahwa kriminalitas yang dilakukan mahasiswa ini bukan single fighter, akan tetapi pasti banyak faktor lain. Kita belum tau seperti apa latarbelakang keluarga, kemudian latarbelakang sosial. Kemudian latarbelakang lingkungan, kita tidak tahu. Memang dia tercatat sebagai mahasiswa, tetapi mahasiswa tidak hidup di ruang hampa. Mahasiswa juga hidup di lingkungan masyarakat, bisa jadi dia banyak persoalan di dalam kehidupannya," terangnya.
Pun demikian, ia mengatakan akibat dari peristiwa tersebut tentu akan ada dampak sosialnya. Paling tidak, kejadian ini bisa menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat di Jambi, bahwa kejahatan itu bisa dilakukan oleh siapapun.
Artikel Terkait
Penghargaan untuk Polda Jambi dalam Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Illegal Tapping di Jalur Pipa PHE Jambi Merang
Tipu Warga Jambi, Subdit V Cyber Ditreskrimsus Polda Jambi Tangkap Dua Pelaku Penipuan Online di Pulau Jawa
Semangat Ramadhan, Personil Ditpolairud Polda Jambi Bersih-bersih Sampah di Sungai Batanghari
Pantau Arus Lalu Lintas saat Arus Balik Lebaran, Ditlantas Polda Jambi Atensi Kendaraan Sumbu Tiga ke Atas Dilarang Melintas
5 Hari Hilang, Sopir Maxim di Jambi Ternyata Dibunuh
2 Mahasiswa Pembunuh Sopir Maxim di Jambi Sempat Gadaikan Mobil Curian
Kronologi Pembunuhan Driver Maxim di Jambi Terkuak: Korban Dijerat Hingga Dibuang