Raya kemudian bekerja di perusahaan logistik, bertugas mengangkut barang seberat 5 kilogram hingga 30 kilogram dengan menaiki dan menuruni beberapa tangga mencapai tiga lantai. Sedangkan jam kerjanya tidak menuntu, kali beberapa sampai 10 jam.
“Saya naik turun tangga untuk mengambil barang dan mengantarkan ke berbagai lorong di lantai satu dua hingga tiga. Pekerjaannya cukup berat, saya juga men-scaner barang, menaruh barang, dan mengirimkan ke lantai satu di-pack-ing. Durasi dalam sehari 8 sampai 10 jam,” kata Raya.
Raya beberapa kali terpaksa menggunakan jasa taksi karena kebutuhan transportasinya ditelantarkan oleh perusahaan agensi di Jerman. Ia dan kawannya harus mengeluarkan 100 Euro padahal belum menerima pendapatan dari bekerja di negara asing itu.
Belum habis masa perjanjian kerjanya, ia mengalami pemutusan kontrak kerja secara sepihak. Sedangkan gaji dari bekerja di perusahaan penerima dan pengantar paket, belum didapatnya.
“Kita dalam posisi menjanjikan penandatanganan pemutusan kontrak kerja. Waktu itu saya menekan bahwa jika tidak mau tanda tangan pihak agensi tidak akan bertanggung jawab mengenai apartemen kita,” katanya.
Beberapa hari kemudian, pihak lembaga mengeluarkan surat kontrak kerja yang baru di bidang pertanian di perbatasan negara. Padahal, aktivitas pertanian di sana tidak ada karena musim dingin yang dingin. Padahal, perjalanan menuju ke lokasi tersebut memakan waktu yang lama.
“Pekerjaan yang mereka tawarkan itu mencurigakan. Pertama, melanggar kontrak, tidak ada kejelasan kontrak kerja. Kedua, lembar kontraknya cuma satu halaman. Sedangkan aktivitas di bidang pertanian pada bulan Desember sangat jarang, bahkan tidak mungkin. Di Jerman waktu itu musim dingin dingin. Kami sudah mengonfirmasi bahwa kami tidak dapat bekerja karena tidak memiliki transportasi dan akomodasi,” ujar Raya.
Pemutusan kontrak dan transfer tempat kerja belum berakhir bagi Ramayana. Pada tanggal 15 Desember 2023, ia kembali ke Frankfurt untuk bekerja di tempat penyortiran buah-buahan. Saat bekerja, ia kebanyakan berdiri di tengah cuaca dingin.
“Pekerjaannya tidak normal, 8 sampai 10 jam. Moda transportasi di sana kalau jam empat sakit, tidak memadai,” kata Raya.
Berjalan kaki di tengah suhu 4 derajat
Sialnya, Raya pernah bekerja sampai malam. Pada waktu tersebut, transportasi umum tidak banyak sehingga ia terpaksa berjalan kaki selama 1,5 jam di tengah musim dingin untuk sampai di stasiun kereta terdekat.
“Mau tidak mau kami berjalan kaki ke stasiun terdekat selama 1,5 jam. Kami saat itu sudah kelelahan karena bekerja, saat itu hujan, suhunya mungkin hanya 4 derajat. Dalam keadaan gelap juga,” katanya.
Setelah menaiki kereta, ia menaiki bus dan berjalan kaki. “Hampir selama 4 jam kami berjalan kaki menuju penginapan (penginapan). Keesokan harinya seperti biasa, kami dijemput taksi,” katanya.
Sempat mengalami mimisan
Raya yang beberapa menghadapi situasi sulit, sempat mengalami demam hingga mimisan. Ia menanggung kesehatannya sendiri karena tidak ada tanggung jawab dari perusahaan.
Artikel Terkait
Kecam Tindak Represif Polisi, Masyarakat dan Mahasiswa Demo
Ketika Kesetaraan Mendukung Dua Mahasiswa Difabel Raih Prestasi di UIN Jambi
181 Hektare Hutan Harapan Terbakar, Mahasiswa Tanam Pohon
Sosialisasi Tugas dan Fungsi Badan Karantina Indonesia di Universitas Jambi: Memperkuat Kesadaran Mahasiswa terhadap Perkarantinaan
Ketua DPRD Jambi: Peran Mahasiswa Sebagai Agent of Change dan Social Control
Dr. Gampo Haryono Pimpin Acara Wisuda 370 Mahasiswa STIE-SAK